Monday, November 24, 2025

Smw


Pada Tangan Kecil Itu, Aku Menemukan Kasih yang Lembut

────୨ৎ────

Di hari itu, hari Sabtu yang cerah dengan langit yang tenang, aku melangkah keluar dari sekolah. Angin pagi bergerak pelan, seolah mengiringi langkah kami menuju Panti Asuhan Cahaya Kasih. Ada rasa gugup kecil, tapi juga harapan yang tumbuh diam-diam di dalam hati.

Halo teman-teman, Bapak Ibu Guru semuanya, dan semua yang melihat blog saya. Perkenalkan, saya Revita dari kelas 9.1, absen 20. Hari ini saya ingin membagikan pengalaman saya saat melaksanakan Saint Mary Way, sebuah perjalanan yang lebih berarti daripada yang saya bayangkan.

Sejujurnya, sebelum keberangkatan itu, aku sempat bertanya-tanya dalam hati, akan seperti apa suasananya nanti? Apa aku bisa melayani dengan benar? Pikiran-pikiran itu berputar, namun perlahan mencair ketika melihat teman-temanku berjalan bersama dengan semangat yang sama. Rasanya seperti kami sedang memulai sebuah bab kecil dalam hidup kami, bab yang mengajarkan tentang memberi, mendengar, dan hadir bagi orang lain. Bahkan langkah-langkah sederhana menuju panti itu pun terasa seperti perjalanan batin, sebuah undangan untuk belajar lebih dalam tentang kasih yang nyata.


See: Momen yang paling berkesan bagiku adalah saat membagikan hadiah kepada anak-anak di Panti Asuhan Cahaya Kasih. Saat itu, aku melihat mereka tersenyum lebar dan menyambut hadiah dengan antusias. Suasana terasa hangat dan penuh sukacita. Aku sendiri merasa sangat bahagia melihat ekspresi mereka yang begitu tulus. Pada momen itu tugasku adalah membagikan snack dan makanan, serta mendampingi mereka selama kegiatan berlangsung. Melihat senyum mereka membuatku merasa bahwa seluruh usaha kami benar-benar berarti. Ketika aku memberikan satu per satu hadiah di tangan-tangan kecil itu, aku seperti melihat dunia yang sederhana namun penuh harapan. Beberapa dari mereka menatapku dengan mata berbinar, seolah rasa bahagia mereka meluap tanpa perlu banyak kata. Ada yang langsung membuka isi hadiahnya, ada yang memeluknya erat, dan ada pula yang hanya tersenyum malu-malu sambil mengucapkan terima kasih pelan.

Pada saat itulah aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hadiah besar. Kadang, senyum paling tulus muncul dari hal yang tampak kecil, namun penuh perhatian. Aku mendampingi mereka bermain, menggambar, dan bercanda. Tawa mereka pecah seperti lonceng kecil yang memenuhi ruangan, dan aku bisa merasakan bagaimana suasana panti hari itu berubah menjadi tempat yang dipenuhi cahaya.


Judge: "For He has looked with favor on the humble state of His servant.” – Luke 1:48


Pengalaman ini mengingatkanku pada kerendahan hati Bunda Maria. Seperti Maria yang melayani Tuhan dengan rendah hati, aku belajar bahwa pelayanan bukan tentang diriku, tetapi tentang memberi dengan tulus. Aku merasa semakin setia sebagai murid Kristus karena pelayanan ini membantuku menghidupi iman, bukan hanya memahami. Aku juga merasa sedang melakukan kehendak Allah, sebagaimana Maria selalu berusaha menanggapi panggilan Tuhan dengan cinta. Melihat senyum anak-anak membuatku sadar bahwa Tuhan bekerja melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan hati tulus.

Dalam benakku terlintas gambaran Bunda Maria yang tidak pernah meminta sorotan, tetapi selalu hadir dengan kerelaan hati. Pelayanannya bukan berupa hal-hal besar, melainkan kesediaan untuk mendengarkan, menerima, dan mencintai tanpa pamrih. Dari pengalaman ini aku merasa seperti diajak untuk memahami langkah-langkah kecil Maria: kesetiaan dalam hal sederhana, ketenangan dalam melayani, dan keberanian untuk berkata "ya" meskipun tidak selalu tahu harus melakukan apa.

Aku belajar bahwa pelayanan bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi sebuah sikap hati. Ketika aku melihat anak-anak itu tertawa dan berlari kecil, aku merasa seperti Tuhan sedang mengajarkanku cara paling lembut untuk mencintai sesama.


Act: Aku berkomitmen untuk terus melayani seperti teladan Bunda Maria: rendah hati, setia, dan tulus. Aku ingin lebih aktif mengikuti pelayanan dan lebih peka terhadap orang-orang yang membutuhkan. Aku juga ingin membawa sukacita melalui tindakan-tindakan kecil yang menunjukkan kasih Tuhan kepada sesama. Aku tahu komitmen ini mungkin tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika aku akan lelah, sibuk, atau lalai. Tapi pengalaman di panti itu menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil pun bisa berarti besar bagi seseorang. Aku ingin belajar untuk tidak menunggu momen besar untuk berbuat baik, aku ingin memulai dari hal yang sederhana, dari menyapa, membantu, berbagi, atau sekadar mendengarkan.

Jika satu senyum saja bisa menghangatkan hatiku sedalam itu, aku ingin menjadi alasan mengapa orang lain tersenyum juga. Semoga aku dapat terus bertumbuh, berjalan, dan melayani seperti Maria: diam, lembut, tetapi penuh kuasa kasih.


Ketika langkah kami meninggalkan halaman panti dan suara tawa anak-anak mulai memudar, ada kehangatan yang masih tertinggal di hati. Hari itu mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu datang dari hal besar; kadang justru dari tangan yang mau membantu, dari waktu yang mau diberikan. Pelayanan ini menjadi cerita yang akan kuingat, bukan karena megah, tetapi karena tulus. Terima kasih kepada teman-teman, Bapak Ibu Guru, dan semua yang membaca tulisan ini. Semoga kisah kecil ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap dari kita mampu membawa cahaya, sekecil apa pun itu 



⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

1 comment:

capaian Tahun lalu

⋆. 𐙚˚࿔   2025  𝓙 ྀིourney  𝜗𝜚˚⋆ Haii hai teman temann, tidak terasa yaa, sekarang kita berada di tahun 2026, Happy new yearr semuanyaa!....